Apakah local pride bisa menang melawan para raksasa sneakers?

Kalau kita berbicara soal sneakers kekinian, kemungkinan besar yang akan terlewat di kepalamu adalah sepatu-sepatu dari merek seperti Nike, Adidas, Puma, New Balance, dan Asics. Ya, beberapa merek tersebut telah berhasil memancangkan keberadaan mereka di dunia sneakers dengan berbagai model sepatu yang terus diluncurkan selama berpuluh-puluh tahun.

Lantas, tidak heran kalau sneakers dari brand luar tersebut akan sangat sering kita temukan di kaki penduduk Indonesia. Nah, akan tetapi, akhir-akhir ini, muncul gerakan “local pride” di komunitas sneakers lokal, di mana mereka memakai sepatu dari merek lokal, seperti misalnya Word Division, NAH Project, Compass, dan lain-lain. Oleh karena itu, pada kali ini, saya ingin mengambil kesempatan untuk membandingkan keduanya dari beberapa segi dan mungkin juga mencoba untuk membuat kesimpulan.

Let’s check it out!

Design

NAH Project Yoga FlexKnit v2.0

Kalau saya ingin jujur, kebanyakan desain dari sneakers lokal merupakan semacam “saduran” dari desain sneakers luar. Coba kalian lihat sepatu Yoga FlexKnit v2.0 di atas, dan tentunya bagi para sneakerhead, jelas bahwa bagian upper dari sneakers ini terinspirasi berat dari flyknit-nya Nike dan juga primeknit-nya Adidas.

Tapi, tidak berarti sneakers luar tidak suka mengambil inspirasi dari sneakers milik brand lain ya! Di dunia fashion, desain yang terinspirasi dari produk lain bukanlah suatu kejahatan, dengan catatan si designer tidak semena-mena hanya menempelkan brand miliknya ke produk yang sudah ada. Hal tersebut bisa dilihat dengan apa yang Skechers sering lakukan.

Durabilitas

Nike Air Force One Triple White

Faktor yang satu ini memang cukup subjektif, karena setiap model sepatu tentunya akan memiliki material yang berbeda yang tingkat kekuatannya beragam. Tapi, untuk bisa membandingkannya, saya akan mengambil jalan tengah, yaitu dengan memakai garis besar dari product line setiap brand. Sampai saat ini, saya berani bilang kalau sneakers luar masih lebih tahan dari sneakers lokal.

Mereka sudah memiliki pengalaman yang lebih lama dalam pembuatan sepatu, dan pastinya brand tersebut mendapatkan sourcing dan peralatan produksi yang baik juga. Akan tetapi, brand lokal kita juga tidak mau kalah dan terus ingin belajar. Buktinya? Lihat saja sepatu Compass. Sepatu mereka bisa dibilang cukup durable sepert vulcanized sneakers milik Vans dan Converse lho!

Kenyamanan

Adidas Ultraboost 4.0 Triple White

Sekali lagi, saya akan membandingkan kedua sneakers ini dari faktor penentu yang cukup penentu, tapi penting. Tingkat kenyamanan dari suatu sepatu pasti sangat tergantung dari selera si pemakai dan juga bentuk kakinya. Namun, bisa dibilang karena brand luar sudah melakukan produksi begitu lamanya, dan mereka sudah cukup familiar dengan customer base milik mereka, mereka sudah mengerti bagaimana cara memuaskan para konsumen.

Oh ya, tidak lupa fasilitas research and development yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk mengembangkan teknologi sepatu baru yang membuat standar kenyamanan yang baru. Boost milik Adidas, Air milik Nike, kedua teknologi cushioning yang disematkan pada midsole sepatu mereka seakan-akan berhasil menyihir dunia sneakers. Tapi, karena produsen di negara Indonesia cukup pintar dalam hal tiru-meniru, apalagi di Indonesia terdapat banyak pabrik milik Nike dan Adidas, brand lokal terus bereksperimen dengan teknologi sepatu mereka.

Harga

Compass Shoes

Kalau yang terakhir ini, saya berani bilang kalau sneakers lokal masih menang jauh. Ya, memang sneakers asal merek luar pastinya akan lebih mahal karena dihitung-hitung kita juga membayar harga brand dan pajak tertentu.

Kalau sneakers lokal, karena produksinya dilakukan di dalam negeri, dan mungkin target pasarnya juga berbeda, harga produk mereka bisa dibilang lebih terjangkau bagi berbagai kalangan. Kebanyakan sneakers lokal dijual di kisaran harga ratusan ribu rupiah, sedangkan untuk sneakers luar, sebagian besar produk mereka dijual di tingkatan jutaan rupiah.

Mana yang Worth-it?

Adidas Gazelle

Seperti yang telah saya sebutkan pada permulaan artikel ini, saya akan mencoba untuk menarik kesimpulan untuk pembahasan kita kali ini, yaitu sneakers lokal vs sneakers luar. Jujur, dari sisi saya pribadi, saya akan masih memilih sneakers asal luar. Kalau kalian tanya mengapa? Jawabannya cukup subjektif.

Saya masih suka dengan desain dan teknologi milik brand sneakers luar, walau harganya tentunya lebih premium. Tapi bukan berarti saya akan menghindari sneakers lokal ya! Malah sebenarnya saya penasaran untuk membeli sneakers lokal untuk dijadikan daily beaters. But, for now let’s just say that sneakers luar masih lebih worth-it, bagi saya.

Share:
Written by menfesyen
Pencinta fesyen pria, tapi tidak tertarik untuk menggaet lelaki.